Beranda Kecamatan Apa yang Salah Dengan Lampung Tengah?

Apa yang Salah Dengan Lampung Tengah?

126
0

ruangmustafa.com – Judul ini memang terkesan tendensius? apalagi bila dikaitkan dengan ronda. Sebenarnya, tak ada yang salah dengan Lampung Tengah, letak geografisnya yang berada di pusat wilayah Lampung menjadikan Lampung Tengah menjadi lintasan utama.

Sehingga, sebagai entitas, ia selalu menjadi sorotan. Mana kala, ada jalan yang rusak, entah itu jalan negara atau jalan provinsi, yang jadi bulan-bulanan justru Pemkab Lampung Tengah lengkap dengan bupatinya, jadi bahan bully-an, padahal lingkup penanganannya sudah jelas ada pada provinsi dan negara meski berada di Lamteng.

Sebagai kabupaten tertua, Lampung Tengah sudah memekarkan setidaknya dua daerah, Kota Metro dan Kabupaten Lampung Timur, kemudian beberapa wilayahnya seperti Tegineneng ‘diambil’ oleh Kabupaten Pesawaran.

Dengan total luas wilayah 4.789, 82 km atau 13,57 % dari total luas wilayah Provinsi Lampung yang dibagi dalam 28 kecamatan dan 291 kampung dan 10 kelurahan membuat rentang wilayah ini amat luas sekali, beberapa kampung bahkan harus dijangkau lewat perahu klotok. Dari luas wilayah itu, jumlah penduduk Lamteng sampai dengan tahun 2014 lalu tercatat 1.227.185 jiwa.

Di tengah wilayah yang amat luas itu, Kabupaten Lampung Tengah masih pula berbatasan secara langsung dengan 25 kecamatan dari 10 kabupaten/kota di Lampung, atau mayoritas kabupaten dan kota di Lampung mengapit langsung Lampung Tengah, ada yang beririsan bahkan beberapa waktu lalu sempat memunculkan konflik.

Disisi lain, Lampung Tengah juga menjadi penyuplai singkong terbesar di Indonesia. Persebaran komoditas singkong dapat dikatakan menyeluruh, karena hampir di berbagai sudut lahan pertanian di wilayah Lampung Tengah ini ada tanaman singkongnya.

Besarnya wilayah dan potensi ditambah lagi posisi geografis Lampung Tengah yang amat strategis itu, sudah barang tentu ini menjadi ‘magnet’ tersendiri untuk sektor apapun termasuk kriminalitas.

Lihat saja Kelurahan Bandarjaya, geliat ekonomi di wilayah ini bisa sama persis dengan Kota Bandar Lampung. Bandarjaya setidaknya diakses langsung oleh masyarakat 9 kabupaten/kota sekaligus; Metro, Lamtim, Mesuji, Tulangbawang, Tulangbawang Barat, Lampura, Lampung Barat, Pesisir Barat dan Way Kanan.

Karenanya, buat kepala daerah yang benar-benar punya misi mengemban amanah, Lampung Tengah bisa jadi ujian serius. Sebab, baik dan buruknya Lampung Tengah terletak di program pemerintahannya.

Dengan besarnya potensi itu, irisan-irisan masalah sosial seperti kriminalitas atau masalah narkoba amat riskan sekali.

Sebab itu, visi keamanan sudah amat tepat, karena kepentingan Lampung Tengah bukan hanya tentang wilayah itu sendiri, tapi untuk (khususnya) 9 kabupaten/kota yang memiliki atau bahkan kenyamanan ketika berada atau melintas di Lampung Tengah.

Jika dikaji pula, ternyata kasus-kasus kriminalitas besar seperti perampokan, pembegalan atau bahkan peredaran narkoba, tak melulu dilakukan oleh masyarakat Lampung Tengah.

Kasus perampokan misalnya, dalam banyak pengungkapan kasus oleh Polres Lamteng, kebanyakan tersangkanya justru bukan warga Lamteng, demikian pula dengan kasus-kasus peredaran narkoba, tersangkanya justru didominasi oleh daerah-daerah yang menjadi penyangga Kabupaten Lampung Tengah.

Tapi, stigma terlanjur terlalu buruk untuk Lamteng dengan kronisnya kasus-kasus kriminalitas yang terjadi di Lamteng, ‘produsen begal’, lubang narkoba atau sarang rampok.

Jika melihat kondisi-kondisi yang melingkupi itu, amat tepat rasanya jika ronda dijadikan identitas unggulan untuk Lamteng, yang pada prinsifnya adalah melindungi. Melindungi warganya dari kejahatan-kejahatan yang mungkin pelakunya berasal dari luar Lamteng. Melindungi warganya dari pengaruh narkoba sampai membangun solidaritas bersama bahwa keamanan adalah mutlak lewat kebersamaan yang disarungi dengan ronda.

Penulis: Meza Swastika

wartawan di Portallampung.co

Tinggalkan Komentar